Tampilkan postingan dengan label Bisnis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bisnis. Tampilkan semua postingan

20 Juni 2019

Pelajaran Yang Dipelajari Dari Buku iWoz

Saya baru saja selesai membaca buku iWoz. Buku ini merupakan biografi dari Steve Wozniak.
Mungkin banyak orang awam tidak kenal siapa si Steve ini. Dia adalah salah satu pendiri Apple, perusahaan besar yang menelurkan Mac, iPhone dan segala yang berawalan dengan i.
Namanya dia tenggelam di bawah ketenaran Steve Jobs, yang lebih dikenal umum.

Buku ini, walaupun merupakan biografi, banyak menggunakan jargon-jargon teknis yang saya yakin bahkan orang komputer pun tidak bisa paham. Kebetulan latar belakang pendidikan saya adalah teknik elektro, jadi saya paham dan sangat menikmati buku ini.

Ada beberapa pelajaran penting yang berhubungan dengan bisnis, terutama start up technology yang saya pelajari dari buku ini.

Berikut pelajaran yang saya pelajari.



Tidak Ada Yang Namanya Sukses yang Tiba-Tiba. Semuanya Butuh Proses.

Kalau kita membaca buku sejarah Apple, sepertinya kelahiran komputer personal pertama yang bernama Apple 1 sangatlah mudah. Dalam sebuah computer club, si Steve Woziak mempresentasikan komputernya (yang masih telanjang) ke semua peserta. Lalu Steve Jobs melihat itu sebagai peluang, lalu dijuallah komputer itu ke toko elektronik. Dan bum, tiba-tiba dapat investor besar dan Apple melejit.
Cerita dongeng seperti itu yang biasanya beredar di banyak pebisnis. Terutama orang-orang yang mendirikan start up teknologi. Sangat berambisi untuk mencari Venture Capital besar, masuk modal besar, lalu bisnisnya booming dan si pendiri langsung menjadi miliarder.

Kalau kita lihat cerita dari sisi Steve (mulai sekarang kalau saya sebut Steve, artinya Steve Wozniak), perjalanan dia membangun komputer personal pertama dimulai dari kelas 3 SD. Ayahnya, yang kebetulan seorang insinyur elektro, sudah mengajarkan dia dasar-dasar listrik.

Steve sering menerima penghargaan di sekolahnya karena berhasil membuat Science Project yang paling keren di antara murid yang lain. Pembelajaran Steve mengenai elektro berlanjut hingga di SMA dia mulai merancang prosesor hanya dengan chip-chip digital di atas kertas. Jaman itu belum ada CPU (prosesor hanya dalam 1 chip).

Setelah mendapat kesempatan, dana & komponen yang dibutuhkan, baru dia bisa merealisasikan rancangannya itu. Jaman itu, komputer belum menggunakan monitor seperti sekarang. Steve adalah orang pertama yang mempunyai ide menghubungkan komputer ke TV. Nama Monitor adalah dia yang kasih.

Semua kejadian itu saling bertaut satu dengan yang lainnya membentuk perjalanan komputer Apple 1 yang kemudian disusul dengan Apple II yang fenomenal. Kalau dihitung dari awal dia merancang prosesor, bisa dibilang dibutuhkan waktu hampir 10 tahun Apple baru sukses.

Bila Anda Tidak Tertarik di Manajemen, Cari Partner Yang Tertarik.

Saat Steve merancang Apple I, sebetulnya dia masih bekerja di HP. Bahkan saat Apple sudah mendapat dana ratusan ribu dollar, dia masih belum mau resign dari HP sangking cintanya dia di situ. Akhirnya setelah Steve Jobs meminta teman-teman sekeliling Steve untuk membujuknya, baru dia mau bekerja full time di Apple, dengan catatan dia hanya mau mengurusi bagian engineering saja. Dia tidak tertarik untuk terlibat dalam bidang manajemen.

Oh, beruntungnya Steve mempunyai partner seperti itu. Tidak semua orang mempunyai kemewahan seperti itu. Saya sendiri pernah mempunyai partner bisnis. Awalnya kami membagi tugas. Saya di bidang teknis dan partner saya di bidang marketing. Tapi saya saat itu tidak tahu bahwa marketing tidak sama dengan majemen. Untuk membereskan chaos di internal, akhirnya saya terpaksa harus terjun ke bidang manajemen dan mempelajari banyak hal yang tidak ada hubungannya dengan engineering (HRD, sales, marketing, customer support, dan lain sebagainya).

Hal ini dibuktikan saat Steve resign dari Apple dan mendirikan CL9. Perusahaan ini hanya bertahan beberapa tahun saja karena (menurut saya) tidak ada orang yang mengurusi manajemen.

Jadi, kalau Anda seorang founder perusahaan dan orang teknis, pilihan Anda ada 2:
1. Cari partner yang satu visi dan jago di bidang manajemen & marketing
2. Atau Anda yang harus belajar dan mengurusi bidang tersebut.

Segalanya Ada Musimnya

Pelajaran ketiga yang saya pelajari adalah: segala sesuatu ada musimnya. 
Ada cerita di mana Steve mendapat order dari Atari untuk membuat sebuah game. Menurut Steve dia bisa lakukan. Tapi syarat dari Atari adalah: Game ini harus selesai dalam waktu 4 hari. Akhirnya, setelah melewati 4 hari siang malam berturut-turut tanpa tidur, dia berhasil melakukannya.

Itu waktu dia masih muda, masih kuat dan masih single. Ceritanya mulai berbeda di mana dia sudah mulai berumur, otomatis stamina sudah tidak sekuat dulu lagi.  Dan punya istri dan 2 anak. 
Pada kondisi itu, sangking dia tidak bisa konsen untuk bekerja, dia pergi ke hotel selama 4 minggu. Tujuannya agar dia bisa tenang dan bekerja. Sayangnya, selama 4 minggu itu dia tidak bisa membuat bahkan 1 baris kode pun. Dia sedang burnt out. 

Pada saat itu, dia sadar bahwa sebetulnya dia cukup membuat rancangan besarnya saja. Dia bisa menggaji beberapa insinyur muda untuk memikirkan dan merancang bagian rincinya.

Jangan Cari Investor

Steve, di bab terakhir bukunya, memberikan saran yang cukup mengejutkan. Berbeda dengan saran-saran buat start up pada umumnya, Steve tidak menyarankan Anda untuk mencari modal awal dari angel investor/venture capital.
Alasannya adalah: Investor mempunyai perspektif dan motivasi yang berbeda dengan inventor. Inventor biasanya mempunyai segala idealisme dan rancangan-rancangan yang mungkin akan bertentangan dengan keinginan pebisnis.

Jadi, saran Steve, bila Anda mempunyai ide inovasi yang menurut Anda bisa mengubah dunia, lakukan sendiri dulu. Miliki pekerjaan full time untuk menghidupi diri Anda. Kerjakan proyek itu di luar waktu kerja Anda. Bila Anda tidak mempunyai gairah untuk mengerjakan hal tersebut sepulang rumah, berarti proyek tersebut tidak berarti bagi Anda. Mendingan segara dihentikan.

Akhir Kata

Bagi saya, buku iWoz memberikan konfirmasi kepada diri saya sendiri bahwa keputusan untuk menjadi investor bagi diri saya sendiri sudah tepat. Saya tidak perlu buang waktu cari investor dan mengemis-ngemis untuk mendapatkan dukungan dana mereka. Setelah itu, saya juga bisa menghemat waktu saya yang akan terbuang untuk berdebat mengenai visi perusahaan bila berbeda dengan investor tersebut.

Demikian tulisan dari saya. Semoga bermanfaat bagi pembaca.

31 Juli 2018

Pelajaran dari Perjalanan ke AS

Dalam artikel saya kali ini, saya ingin membagikan pengalaman saya saat jalan-jalan di negeri Paman Sam saat musim panas tahun 2018 yang dilihat dari sudut pandang Personal Development.

Saya beruntung. Harusnya istri saya yang pergi ikut Tur keliling ke Amerika Serikat. Namun karena dia tidak berhasil mendapatkan visa, maka saya yang masih memiliki visa AS yang aktif mendapat kesempatan ini.

Perjalanan panjang naik pesawat Eva Air saya nikmati dengan makan dan tidur sambil nonton film selama 23 jam. Beberapa jam terakhir sebelum mendarat di bandara San Fransisco, saya berusaha untuk melek agar bisa segera tidur di hotel untuk melawan Jet Lag.

Setelah mendarat di bandara San Fransisco, rombongan kami langsung di giring ke arah imigrasi. Satu hal yang langsung menarik perhatian kami semua adalah seorang petugas imigrasi wanita yang berhijab. Tiba-tiba ada salah satu peserta tur yang kebetulan juga berhijab menyeletuk: "O, ternyata ada juga orang Amerika yang berjilbab ya?". Hal ini membuktikan bahwa AS tidak sediskriminasi yang diberitakan.

Semua rombongan kami bisa melewati imigrasi dengan lancar dan tiba di hotel tengah malam. Saya langsung tidur dan bertekad untuk melawan jet lag secepat mungkin.

Hari Pertama

Pukul 5:00 pagi, saya sudah melek dan memaksa tubuh saya untuk berolah raga. Setelah itu dilanjutkan dengan enema kopi sudah rutin saya lakukan dalam 3 tahun terakhir ini. Selesai mandi, saya lanjutkan dengan aktivitas spiritual harian saya. Itu memang tekad saya, walaupun liburan, kebiasaan rutin tetap harus dijalankan dengan disiplin.

Tantangan pertama datang saat sarapan di hotel. Hotel menyediakan sarapan ala Amerika. Godaannya masih bisa saya tahan. Seperti di rumah, saya hanya minum air putih (yang kalau di Amerika langsung ambil dari keran) serta apel saja. Tantangan bisa dilewati dengan baik.

Setelah sarapan kami langsung dibawa ke landmark-nya kota San Fransisco, yaitu Golden Gate Bridge. Sayangnya, suasananya lagi berkabut. Jadi kami langsung dibawa ke Sausalito, pelabuhan kecil dengan pemandangan yang indah.

Di tempat ini kami juga dibawa ke sebuah toko roti. Saya membeli roti dalam jumlah, yang karena lapar mata, terlalu banyak sehingga harus dibuang pada hari ke-3 karena tidak sempat dimakan.

Pelajaran pertama: Jangan belanja di saat lapar.

Dari Sausalito kami dibawa makan siang di Hard Rock Cafe. Restoran top serta waiter yang cantik dan ganteng ternyata tidak menjamin layanannya memuaskan. Makanan yang sudah kami booking beberapa hari yang lalu masih memerlukan waktu hampir 1 jam untuk bisa kami nikmati. Selesai makan, saya lihat-lihat di toko yang menjual souvenir Hard Rock Cafe. Saya tidak membeli 1 pun karena menurut saya harga-harganya terlalu mahal untuk produk-produk buatan China.
Pelajaran kedua: Jangan tertipu dengan merek terkenal/mahal.

Setelah makan siang, kami dibawa ke pusat kota San Fransisco yang disebut dengan Union Square. Tour leader ada menceritakan sekilas mengenai sejarah tempat tersebut. Sayangnya saya tidak ingat. Bila Anda tertarik untuk mengetahuinya, silakan google sendiri ya.
Di sini masing masing peserta dikasih waktu bebas untuk jalan-jalan dan berbelanja. Saya sendiri, karena tidak suka shopping, mulai jalan-jalan tanpa arah. Tiba-tiba saya melihat sebuah bis kota yang badannya penuh dengan iklan Facebook. Hal ini menarik perhatian saya karena sebagai negara pengguna Facebook terbesar nomor 4 di dunia, saya belum pernah melihat Facebook memasang iklan di Indonesia. Yang ada adalah perusahaan Indonesia pasang iklan di Facebook. Ini adalah contoh situasi satu pihak yang menerima, tapi tidak memberi.

Hari pertama kami diakhiri dengan makan malam di sebuah restoran yang bernama Moonstar. Sebuah restoran seafood all you can eat. Rombongan kami terkejut saat bis yang mengantar kami masuk ke parkiran restoran ini. Ada puluhan orang antri di depan restoran ini. Setelah kami masuk, baru kami sadari, memang pantas restoran ini diantri. Makanan yang disediakan sangat banyak sekali ragamnya. Rasanya juga sangat menggugah selera. Tetapi yang menarik dari restoran ini bukan di cita rasa masakannya. Saat saya akan keluar dari restoran, terlihat banyak piagam penghargaan yang dipajang di dinding ruang tunggunya.
Penghargaan didapat karena restoran itu banyak ikut berpartisipasi dalam program Corporate Social Responsibilities di bidang linkungan. Ternyata pemilik restoran ini bukan hanya memikirkan profit saja, tapi juga memikirkan lingkungan sekitarnya.
Pelajaran ketiga: Bisnis jangan hanya pikirkan profit, pikirkan juga lingkungan sekitar.


Hari Kedua

Saya bangun jam 5:00, lalu keluar dari hotel untuk jogging pagi. Suasana saat itu masih gelap dan dingin. Tidak ada 1 batang hidung pun yang terlihat di luar gedung hotel. Saya memberanikan diri jogging di pinggir pantai. Setelah lari sampai sebuah dermaga kecil, akhirnya saya melihat 1 orang yang sedang memancing. Lalu saya sapa orang tersebut sambil bertanya ikan apa yang dia pancing. Dia menjawab "Shark". Mungkin saya salah dengar, tapi saya tidak berniat untuk klarifikasi lebih lanjut dan mengucapkan salam kemudian melanjutkan jogging saya kembali ke hotel. Dalam hati saya berpikir ternyata ada juga orang dingin-dingin sendirian mancing ikan hiu di pinggir pantai.

Selesai makan pagi (yang lagi-lagi hanya air putih dan apel), kami langsung membawa koper kami naik bis. Lalu kami dibawa ke Twin Peaks, tempat melihat kota San Fransisco dari ketinggian.
Dalam perjalanan menuju Twin Peaks, kami melewati kawasan Castro, pusat LGBT yang terkenal. Pemandangan 2 lelaki saling bergandengan atau bahkan berpelukan adalah hal yang lazim di sepanjang jalan yang kami lalui. Daerah tersebut juga memasang banyak bendera berwarna pelangi yang menunjukkan eksistensi mereka. 
Walaupun hal ini bertentangan dengan value yang saya pegang, namun saya tidak bisa menyangkal apa yang saya lihat.
Pelajaran keempat: Terima fakta bahwa ada orang yang berbeda dengan Anda.

Selesai berfoto-foto di Twin Peaks, kami kembali menuju ke Golden Gate Bridge (lagi). Kebetulan cuaca cerah, jadi kami bisa memuaskan dahaga kami untuk berfoto dengan latar belakang jembatan yang berwarna merah bata ini. Bukti bahwa kami sudah pernah ke kota San Fransisco.

Pelajaran Kelima: Jangan pernah menyerah sebelum mendapatkan apa yang Anda inginkan.


Dari Golden Gate Bridge kami kembali lagi ke kawawan Fisherman's Wharf, pelabuhan terkenal di San Fransisco. Kami jalan-jalan dan berfoto ria. Lalu makan malam di restoran italia yang Carbonara-nya berasa mie celor khas Palembang. Dengan kuahnya yang encer (bukan creamy seperti yang sering dijumpai di Indonesia), seorang peserta yang mempunyai restoran menyeletuk: "Kalau chef saya masak Carbonara seperti ini, langsung saya pecat dia".
Hampir semua peserta tidak menghabiskan mie italia mereka. Namun saya ludeskan hingga ke kuah-kuahnya. Termasuk roti Sourdough khas San Fransisco-nya.
Pelajaran Keenam: Jangan menilai sesuatu berdasarkan apa yang telah kita ketahui. Coba pahami dan nikmati budaya lokal.

Malamnya kami langsung dibawa ke air port untuk terbang ke New York. Penerbangan kami menggunakan maskapai Alaska airlines yang ternyata adalah airline versi murahnya Virgin airlines yang dimiliki oleh milyader flamboyan: Richard Branson. Karena sudah tahu ini adalah budget airline, maka saya sudah siap-siap botol air kosong yang saya isi (air keran) setelah melewati security check (yang tidak memperbolehkan membawa botol berisi air).
Setelah menunggu selama 1 jam karena penundaan, akhirnya kami terbang selama 5,5 jam. Seperti dugaan saya, sepanjang perjalanan, pramugari yang cantik nan seksi yang mengenakan sepatu berhak tinggi itu sama sekali tidak menyajikan minuman apalagi makanan ke kami. Ibu paruh baya yang duduk di samping saya bertanya ke saya: "Apakah Anda pernah naik pesawat yang tidak memberikan air minum sama sekali?" Saya jawab: "Ini adalah budget airline, jadi mereka memang tidak menyediakan air minum". Karena kasihan dengan dia, saya menawarkan air minum saya dan dia tolak dengan halus.
Pelajaran Ketujuh: Kita sering menjelek-jelekan airlines dalam negeri. Airlines luar negeri juga sama saja. Delay dan tidak dapat makanan dan minuman untuk penerbangan 5,5 jam adalah hal yang biasa.

Hari Ketiga

Dengan perbedaan waktu 3 jam, saat kami mendarat, hari sudah pagi. Dengan mata yang merah, tanpa gosok gigi, apalagi mandi, kami langsung dibawa jalan-jalan menuju pusat kota New York. Karena belum sarapan, kami dibawa ke Food Truck di pinggir jalan yang bernama The Halal Guys. Makanan Turki berupa nasi dan daging sapi.

Sangking enaknya makanan ini, hujan pun orang-orang masih bersedia antri untuk membeli nasi ini.

Saya juga tidak mau ketinggalan. Saya beli yang combo (lagi-lagi lapar mata dan benaran lapar). 

Nasi kuning campur daging sapi dan roti pita dicampur dengan mayones membuat saya makan dengan lahap walaupun harus berdiri dan jongkok di pinggir jalanan New york yang ramai orang hilir mudik. "Yah, nggak apa-apa. Toh tidak ada yang kenal" pikir saya dalam hati.

Karena porsi nasinya yang super banyak (di AS, porsi makanan selalu besar-besar), akhirnya saya menyerah juga. Sisa nasi yang tidak sanggup saya makan lagi harus saya relakan berakhir di tong sampah.

Setelah itu kami langsung menuju ke restoran untuk makan siang. What? Makan siang? Barusan kita makan nasi turki hingga hampir muntah, sekarang dilanjutkan ke makan siang? Tapi apa boleh buat. Jadwal perjalanan masih sangat padat, terima kasih untuk keterlambatan pesawat dengan pramugarinya yang seksi tapi tidak melayani apa-apa, kami harus makan siang dalam kondisi perut hampir pecah.

Dan benar. Sesampainya di restoran, semua peserta hampir tidak menyentuh makanan yang disajikan. Saya mencoba makan sedikit. Tidak bisa dipungkiri, masakannya sungguh enak-enak. Tidak mengejutkan karena restoran tersebut mendapat penghargaan sebagai salah satu restoran terbaik di New York.

Manager-nya sampai heran (dan mungkin juga sedikit tersinggung) melihat masakan yang disajikan sebagian besar masih utuh.

Keluar dari restoran, kami langsung dibawa ke pelabuhan yang akan membawa kami ke Patung Liberty. Patung yang menjadi icon penting bukan cuma untuk kota New York, tapi juga untuk Amerika Serikat.
Rasanya inilah foto paling wajib diambil bila berkunjung ke AS. Jangan bilang sudah pernah ke New York kalau belum foto di bawah patung Liberty.

Selesai puas berfoto ria di patung Liberty, kami diajak makan di restoran Dallas BBQ di dekat Time Square. Sebetulnya tidak ada yang istimewa dengan makanan di restoran ini. Tapi yang pasti, seperti biasa, ukuran porsinya yang jumbo khas AS membuat kami semua terkejut saat disajikan. Sekedar informasi, makanan yang berbentuk persegi di sebelah kanan itu bukan martabak, tapi kue. Kami semua heran, kok makan ayam dan kentang goreng dicampur dengan kue ya?


Selesai makan, kami dikasih waktu bebas untuk jalan-jalan di sekitar Times square. Sebuah tempat
yang penuh dengan manusia-manusia hilir mudik entah ke mana, serta gedung-gedung berlapis monitor LCD high definition yang memutar iklan tanpa henti. Yang menariknya adalah, ada sebuah panggung yang mirip dengan kursi stadion bola yang penuh dengan orang yang duduk di situ. Saya mengira mereka sedang menonton sesuatu. Karena penasaran, saya ikut naik dan ingin melihat apa yang sedang mereka tonton. Setelah susah payah mencari tempat yang kosong, akhirnya saya berhasil duduk dan mendapati tidak ada tontonan yang bisa dilihat selain lautan manusia (saja). Saya heran. Hari itu adalah Senin malam dan mereka hanya nongkrong duduk dan tidak melakukan apa pun. Ngapain ya mereka?

Sesampai di hotel, saat saya sedang menulis jurnal harian saya, saya baru sadar, hari ini saya tidak melakukan semua rutinitas pagi saya.
Pelajaran Kedelapan: Hati-hati dengan kesibukan, dia bisa menyebabkan Anda lupa dengan kebiasaan Anda.

Hari Keempat

Saya bangun dengan malas dan saat mau olah raga, otak saya mulai berdalih: "Kan semalam kamu tidur di pesawat dan kurang tidur. Jadi boleh dong hari ini kamu tidur lebih banyak dan tidak perlu olah raga?". Otak saya yang lain bicara lagi: "He, nggak boleh seperti itu. Kemarin kamu sudah tidak olah raga, hari ini kamu harus olah raga". Percakapan seperti itu hilir mudik beberapa kali sampai saya teringat kata filsuf terkenal, Michael Jordan: "Just Do It". Saya langsung berdiri dan olah raga di kamar hotel di depan room mate saya yang masih tidur. Setelah itu saya sudah merasa seperti pemenang yang berhasil memenangkan sebuah pertempuran hebat di kepala saya.

Jadwal hari ini setelah sarapan adalah ke Empire State building, gedung tertinggi nomor 28 di dunia. Gedung ini terkenal karena ada King-kong yang manjat di atasnya. 
Sesampai di atas, pemandangannya sebetulnya biasa saja. Melihat kota New York dari atas. Mengingatkan saya saat berada di puncak Monas. Ya, bedanya kali ini di New York gitu lho...
Selesai dari Empire State Building, kami makan siang, lalu sebentar menyempatkan mampir di tempat bekas menara kembar WTC yang hancur ditabrak pesawat yang dikemudikan oleh teroris. Saat ini tempat itu disebut dengan "Ground Zero" dan dijadikan monumen untuk mengingat para korban yang meninggal akibat insiden tersebut.

Setelah berfoto-foto sejenak, kami buru-buru berangkat ke bandara JFK untuk terbang ke Las Vegas. Kali ini kami naik maskapai American Airlines. Ada sedikit insiden. Ternyata koper kabin kami tidak boleh dibawa masuk ke kabin. Harus masuk bagasi dan kena charge $35 per koper. Saya tanya ke Ibu Marina selaku Organizer tour ini. Beliau mengatakan bahwa saat booking peraturan itu belum ada. Jadi ini adalah peraturan baru yang langsung berlaku walaupun untuk penumpang yang sudah booking lama. Yang mengesankannya adalah pihak Tour menelan biaya itu sendiri, bukannya membebankan ke para peserta.

Ada 2 pihak yang sangat kontras sekali, pihak Marina Tour lebih mementingkan nama baik dan kepuasan pelanggan, sedangkan sebaliknya pihak American Airlines mementingkan keuntungan dan mengabaikan nama baik dan kepuasan pelanggan. Saya sendiri tidak akan pernah lagi naik American Airlines.

Pelajaran Kesembilan: Nama baik lebih berharga dibandingkan uang.

Hari keempat belum selesai sampai di sini. Pesawat kami delay hingga 2,5 jam dan kami harus tiba di hotel Las Vegas jam 2 subuh dan tidur jam 3 (tanpa mandi).

Hari Kelima

Saya menyerah. Bangun tidur jam 7 dengan kepala pusing karena kurang tidur sehingga saya memutuskan saya hanya Jumping Jack saja. Setelah itu kami sarapan di hotel dengan menu buffet all you can eat. Kali ini saya menyerah (lagi). Saya makan bukan cuma buah saja, tapi roti, daging, manisan dan semua yang terlihat enak di restoran itu. Setelah (terlalu) kenyang baru saya menyesal mengapa saya makan segitu banyak di pagi hari.

Setelah sarapan kami dibawa ke Grand Canyon untuk melihat jurang. Ya, Grand Canyon sebetulnya cuma jurang yang besar. Tapi yang membuat tempat ini menarik selain jurangnya adalah jalanan menuju ke tempat itu besar, mulus dan lancar. Padahal sepanjang perjalanan selama 2,5 jam hanya dihiasi dengan padang gurun dengan semak-semak kering di sana-sini.
Indonesia sebetulnya tidak kekurangan jurang (dan gunung). Kita punya banyak tempat seperti ini. Yang berbeda adalah aksesnya yang belum bagus. Hal ini mengingatkan saya tahun lalu ke Banyuwangi. Ada banyak obyek wisata yang sudah dipromosikan dengan susah payah tidak dapat saya kunjungi karena macet di tengah jalan karena terlalu banyak orang yang mau masuk.

Pelajaran Kesepuluh: Kalau mau berhasil, harus berani investasi.

Hari Keenam

Kali ini kondisi tubuh sudah mulai stabil. Olah raga dan rutinitas lainnya sudah bisa berjalan kembali. Juga sarapan sudah bisa mengendalikan diri dengan hanya makan buah di tengah makanan-makanan enak.
Setelah itu kami menuju Premium Factory Outlet, sebuah pertokoan di tengah gurun. Para ibu-ibu dari rombongan kami langsung kalap menyerbu toko-toko merek terkenal karena ada banyak diskon yang ditawarkan. Kebetulan saya menemani seorang ibu yang sedang mencari produk-produk tertentu. Saat ditunjukan foto produk yang dicari ke penjaga toko, disampaikan bahwa barang tersebut tidak ada karena keluaran terbaru. Dengan kata lain barang-barang yang dijual di toko tersebut adalah model lama.
Walaupun rombongan kami tahu hal itu, tapi penjelasannya adalah: "Gak apa-apa model lama. Toh model lama di AS masih tetap model baru di Indo".
Sangking kalapnya, ada yang beli dompet merek tertentu sejumlah 4 hingga 6 buah. Saya tanya, "Emangnya butuh segitu banyak?" dan dijawab dengan "Nggak, ini untuk oleh-oleh buat keponakan saya". O, begitu.... saya paham.

Pelajaran Kesebelas: Saat emosi sudah dimenangkan, logika akan lumpuh.

Hari Ketujuh

Kami check out dari hotel dan sarapan (lagi-lagi) all you can eat dan saya (lagi-lagi) hanya makan buah saja. Yeay!!
Destinasi berikutnya adalah Los Angeles yang akan ditempuh selama 7 jam naik bis. Di tengah perjalanan, kami akan mampir di Cabazon Factory Outlet untuk (lagi-lagi) shopping.
Kondisi Cabazon yang sama panasnya dengan di Las Vegas (suhu 43 derajat Celcius) tidak menyurutkan semangat para ibu-ibu untuk berbelanja.
Di sini saya harus berpisah dengan rombongan karena dijemput oleh keluarga.

Pelajaran Keduabelas: Saat emosi sudah dimenangkan, perasaan akan mati.

Hari Kedelapan

Rutinitas pagi saya sudah teratur dilakukan. Tetapi sarapan pagi dilewati karena akan brunch dengan keluarga. Saya berpisah dengan rombongan. Mereka menuju ke Universal Studio dan saya diajak jalan-jalan ke LACMA (Los Angeles County Museum of Art).

Ada banyak hal menarik yang saya amati di LACMA.
Harga tiket masuk:
  1. Gratis bagi anak di bawah usia 17 tahun. Jadi mereka mendorong anak-anak muda mau masuk ke musium.
  2. Diskon untuk penduduk Los Angeles County (County adalah pemerintah tingkat 2 seperti Kabupaten/Kota). Mereka memberikan hak khusus untuk penduduk kota LA.
Dengan harga tiket yang relatif tidak murah ($20/orang), saya melihat ada banyak orang antri untuk beli tiket. Kondisi ini berbanding terbalik dengan  Indonesia, musium adalah tempat wisata terakhir yang akan dikunjungi oleh pelancong.

Setelah masuk, saya menjumpai ada banyak lukisan unik dari jaman abad 17 hingga abad 20. Ada lukisan yang dengan mudah dicerna dan dipahami. Tapi ada juga lukisan yang harus ditatap beberapa saat agar bisa tahu apa yang sedang dilukis.
Coba tebak, gambar di samping ini lukisan tentang apa?


Selesai dari musium, kami makan malam lalu langsung di antar ke bandara Tom Bradley.
Keluar dari AS lebih mudah daripada masuk. Jadi kami tidak menemui kendala yang berarti.

Tiba di Indonesia

Setelah menempuh penerbangan selama 23 jam dengan maskapai penerbangan Eva Air, transit di kota Taipei selama 3 jam, plus makan 3 kali dan nonton film entah berapa banyak, akhirnya kami tiba di bandara Soekarno-Hatta.

Merasakan suhu udara yang sekitar 31 derajat celcius, saya sudah jatuh cinta lagi dengan Indonesia. 
Lalu melewati imigrasi yang hanya beberapa detik saja membuat saya lebih jatuh cinta lagi. Apalagi melihat antrian WN asing di imigrasi, meneguhkan saya Indonesia adalah rumahku.

Namun cerita saya belum selesai. Ada 1 lagi tantangan, yaitu Bea Cukai. Pada Form Deklarasi, tertulis: "Membawa barang untuk pemakaian sendiri dengan nilai lebih dari $250". Diisi dengan Ya atau Tidak? Semua anggota rombongan mengisi Tidak. Tapi saya sudah hitung. Semua barang belanjaan dan titipan yang saya bawa nilainya $573. Kalau saya jawab tidak, tentunya saya sudah berbohong. 
Teman saya bilang, "Nggak apa-apa. Semua orang melakukan hal yang sama kok". Saya sudah mencawang kolom "Tidak". Namun hati nurani saya tidak tenang. Akhirnya saya coret dan ganti dengan "Ya". Saya sudah hitung di otak saya berapa pajak & bea yang harus saya bayar. Ya, kira-kira Rp. 600 ribu lah. Saya siap bayar.

Saat keluar, saya mencari jalur merah. Tapi sudah tidak ada. Lalu saya menghampiri seorang petugas dengan kaos biru bertulisan Bea Cukai. Saya tanya, "Pak, kalau saya membawa barang yang nilainya lebih dari $250, harus lewat mana?". Petugasnya agak bingung, kok tumben ada yang sukarela melakukan deklarasi. Dia tanya, 
Petugas (P): "Mana daftar barangnya?"
Saya tunjukkan daftar yang sudah saya tulis di form deklarasi.
P: "nilainya lebih dari $500 nggak?"
Agung (A): "sekitar 500-an"
P: Ya sudah, kita coba scan saja dulu ya
A: Saya dengar dari teman limitnya sekarang $500 ya Pak?
P: Ya, benar. Itu form lama. Sekarang batasannya adalah $500 dan saya lihat barang yang Bapak bawa sebagian adalah makanan yang akan dimakan habis, bukan untuk dijual lagi.

Lalu saya scan koper saya. Petugasnya bilang cukup 1 saja. Lalu kasih kode dengan anggukan kepala yang berarti koper saya boleh dibawa pergi tanpa perlu periksa.

Ah, leganya. Saya tidak perlu bayar pajak & tetap mempertahankan integritas saya.

Welcome back to Jakarta.

Demikianlah cerita saya selama di negeri Paman Sam. Semoga bermanfaat.

17 September 2015

Kerugian Bila Tidak Menggunakan Software Akuntansi

Sampai saat ini masih ada 80% perusahaan di Indonesia yang belum menggunakan software akunting. Cukup mengherankan.
Pada artikel saya sebelumnya sudah saya paparkan alasan-alasan apa saja yang biasa dilontarkan oleh para pebisnis yang belum mau pakai Accounting Software.

Kali ini saya mau membahas tentang kerugian apa saja bila sebuah perusahaan tidak menggunakan software akuntansi.

Bagian pertama adalah kerugian dari internal:
Bila bisnis Anda banyak mengandalkan penjualan kredit, maka piutang Anda adalah salah satu hal yang penting untuk dimonitor. Tanpa adanya software akuntansi yang terintegrasi dengan modul Piutang, berarti Anda harus pantau piutang Anda melalui excel atau manual dengan kertas. Berapa banyak cashflow Anda yang nyangkut di piutang hanya karena Anda telat menagih piutang?

Masih di bagian internal, bila bisnis Anda banyak menyimpan inventory, apakah Anda bisa memantau stock mana yang fast moving dan slow moving? Telat menyediakan stock berarti Anda kehilangan potensi sales. Stok yang terlalu banyak akan memacetkan cash flow Anda.
"Software Akuntansi bisa membuat Anda lebih Profit dan berlimpah Cashflow"
Bagaimana dengan biaya Anda? Apakah selalu Anda pantau? Menurut Shigeo Shingo, "biaya yang paling bahaya adalah biaya yang tidak kita kenal". Apakah Anda sudah tahu ke mana saja semua uang Anda pergi? Software akuntansi bisa membantu Anda melacak ke mana perginya uang yang dengan susah payah Anda kumpulkan dari penjualan.

Bagian kedua adalah dari eksternal:
Apakah Anda tahu berapa persisnya HPP Anda? Atau Anda termasuk pebisnis yang masih mengandalkan intuisi? Saat kompetisi masih lembek, mungkin Anda tidak perduli dengan profit margin Anda. Namun bila kompetisi mulai mengganas, Anda harus berhati-hati menentukan harga jual Anda agar bisnis Anda tetap kompetitif. Software akuntansi yang terintegrasi dengan modul persediaan mampu membantu Anda menghitung harga pokok penjualan secara akurat sehingga Anda tahu persis berapa keuntungan kotor dari setiap penjualan Anda.

Kesimpulannya: Bila Anda tidak menggunakan software akuntansi, kemungkinan Anda belum menyadari betapa besarnya Cashflow Anda yang nyangkut dan Profit yang hilang yang seharusnya sudah menjadi milik Anda.

Artikel lain saya membuktikan bahwa semua kerugian itu bisa dicegah dengan memonitor angka-angka yang muncul di software akuntansi. Dengan kata lain, software akuntansi bisa membuat Anda lebih profit dan berlimpah cashflow.

10 September 2015

Cara Meningkatkan Kapasitas Produksi

Saya banyak bertemu dengan pemilik pabrik. Secara umum, kondisi industri manufaktur di Indonesia masih bagus. Artinya adalah: Order yang masuk melebihi kapasitas produksi. Dengan kata lain, kapasitas produksi pabriklah yang membatasi perusahaan tersebut untuk menjual lebih banyak.

Apa yang terjadi bila kapasitas tidak dinaikkan namun penjualan meningkat? Orderan akan menumpuk. Apakah ada cara untuk meningkatkan penjualan tanpa harus meningkatkan kapasitas produksi, yang umumnya mengharuskan untuk beli mesin produksi baru yang harganya azubilah mahalnya.

Tulisan berikut ini akan menunjukan caranya meningkatkan kapasitas produksi tanpa harus membeli mesin produksi yang baru.

Mari kita lihat sebuah skenario. Sebuah pabrik akan memproduksi produk A dengan 4 proses seperti berikut ini:

Misalkan 1 proses untuk memproses barang A adalah 10 menit. Jadi dari bahan baku hingga jadi A memerlukan 40 menit.
Kalau ada order masuk untuk memesan 100 buah A maka waktu yang diperlukan adalah: 40 menit x 100 = 4000 menit.

Hal ini terjadi bila proses 2 hanya bisa bekerja bila proses 1 telah menyelesaikan semua orderan.











Gambar prosesnya akan seperti ini:
Kondisi ini kita sebut dengan Production Batch size (jumlah yang akan diproduksi) = Transfer Batch size (jumlah yang dipindahkan ke masing-masing proses).

Bagaimana bila kita memangkas Transfer Batch size menjadi 1/2. Apa yang akan terjadi?
Mari lihat ilustrasi berikut ini:
Perhatikan di sini. Proses 2 sudah bisa dimulai saat proses 1 sudah selesai 1/2. Begitu juga proses 3 sudah bisa mulai saat proses 2 sudah selesai 1/2.
Berapa waktu total yang diperlukan untuk menyelesaikan 100 buah A dengan cara seperti ini?
Mari kita hitung:
50 x 10' di proses 1 = 500'
50 x 10' di proses 2 = 500'
50 x 10' di proses 3 = 500'
100 x 10' di proses 4 = 1000'
Total = 2500 menit.

Bandingkan dengan cara sebelumnya yang memerlukan 4000 menit. Ini adalah peningkatan produktifitas sebesar 37,5%.
Ini baru memotong transfer batch size menjadi 1/2. Apa yang akan terjadi bila transfer batch size-nya dijadikan 1?
Dengan cara yang sama, kita bisa menyelesaikan semua 100 A dalam waktu 1030 menit. Sebuah peningkatan 74,25%.

Metode yang sangat sederhana ini sudah dilakukan oleh banyak pabrik-pabrik Jepang. Itu alasannya mengapa produksi mereka sangat efisien.
Pertanyaannya adalah: Apakah Anda sudah melakukan hal yang sama untuk pabrik Anda? Sederhana sekali. Tinggal potong Transfer Batch Size Anda sekecil mungkin.

Pada dasarnya semua pabrik sudah mengetahui hal ini. Sebagai contoh, sebuah pabrik baut di Tangerang yang menyuplai baut ke sebuah pabrik motor jepang sudah mempraktekan hal ini. Dalam kondisi normal, transfer batch size-nya adalah 1 drum besar. Pada kondisi sedang mempercepat produksi, mereka mengubah transfer batch size-nya dari drum besar menjadi ember kecil. Yang lucunya adalah, setelah kondisi normal kembali, transfer batch size-nya kembali ke drum besar.

Mengapa bisa seperti itu? Kita akan bahas di artikel berikutnya.

Untuk sementara ini, bila ada yang Anda ingin didiskusikan/ tanyakan, silakan tinggalkan pesan di bawah ini.

08 September 2015

Meningkatkan Produktivitas Sebuah Perusahaan Manufaktur

Beberapa waktu yang lalu, sebuah pabrik plastik terbesar di daerah Cikarang menceritakan kondisi pabrik mereka saat itu.
Mereka sudah mempunyai software untuk sistem produksi mereka. Buatan seorang programmer freelance yang saat ini sudah sulit untuk dihubungi. Software ini makin lama makin lambat seiring dengan penambahan data.
Selain itu mereka juga mempunyai software akuntansi yang berbeda, tidak terintegrasi dengan software produksinya.
Kondisi ini menimbulkan ketidak efisiensian karena data hasil produksi harus diinput ulang ke dalam software akuntansi. Begitu pula sebaliknya saat ada pembelian, data dari software akuntansi harus diinput lagi ke software produksi.
Kondisi ini mengakibatkan hal-hal berikut ini:

  1. Informasi stock tidak up-to-date. Mereka sulit mengetahui sebetulnya ada berapa banyak bahan baku, WIP atau Finished goods yang tersedia. Akibatnya mereka over-stock untuk menghindari kekurangan stok. Efeknya adalah cash flow terganggu uang nyangkut di persediaan.
  2. Dibutuhkan banyak orang hanya untuk input ulang transaksi yang terjadi. Dengan meningkatnya upah minimum, penambahan tenaga kerja akan menambah biaya perusahaan. Bukan cuma itu, karena proses input ulang terjadi di banyak bagian, kesalahan tidak dapat dihindari. Faktor human error ini mengakibatkan informasi yang dihasilkan tidak dapat diandalkan.
  3. Laporan keuangan juga sering terlambat. Hal ini mengakibatkan direksi tidak bisa mengambil keputusan yang tepat waktu.
"Informasi stock tidak real-time, Cost tinggi, produktivitas staff produksi tidak diketahui"
Kondisi ini mulai berubah setelah mereka menggunakan FINA for Manufacture. Dengan sistem produksi yang terintegrasi ke software akuntansi, maka ada banyak pekerjaan input data yang bisa dihilangkan.
Bukan hanya itu, informasi stock baik Raw Material, WIP maupun Finished goods bisa dilacak dengan mudah, bahkan bisa diketahui hingga di level mesin.
Informasi apa yang terjadi di Floor produksi bisa didapat secara real-time. Order apa yang sedang jalan, sudah sampai di mana progress produksinya bisa langsung diketahui oleh pihak Marketing sehingga kepuasan pelanggan bisa dipertahankan.

Dan terakhir, karena sistem baru ini menyimpan Bill of Material (BOM) secara detail lengkap dengan production routing-nya, maka perhitungan cost produksi bisa didapatkan secara akurat.

Bila Anda ingin agar produktivitas pabrik Anda meningkat, sudah saatnya Anda menggunakan software produksi yang terintegrasi dengan akuntansi.

07 September 2015

Menaikkan Penjualan Dengan Software Akuntansi

Suatu hari, seorang pemilik pabrik & distributor agro chemical terbesar di Indonesia bercerita kepada saya. Setelah menggunakan FINA Accounting software yang dilengkapi dengan Sales Force Automation buatan mobilecom serta sebuah sistem Business Intelligent, beliau berhasil meningkatkan penjualan sebesar 30%, cost turun 10%, inventory turn over turun dari 3,5 bulan jadi 2,5 bulan dan profit naik 4%.

Saya sangat antusias mendengar hal ini. Lalu saya bertemu dengan beliau untuk bertanya bagaimana cara beliau melakukan hal tersebut. Beliau dengan murah hati membagikan triknya.

  1. Pertama: pasang target penjualan dan biaya kepada semua salesman.
  2. Kedua: Dapatkan laporan penjualan dan biaya setiap hari H+1. 
  3. Ketiga: Saat mendapat laporan, cek pencapaian penjualan dan realisasi biaya per masing-masing salesman.
  4. Keempat: Salesman yang tidak mencapai target akan ditegur.
  5. Kelima: Salesman yang sudah ditegur namun tetap tidak bisa memperbaiki kinerja akan diganti.
Hanya itu.

Saya terkesan. Ternyata sederhana sekali. Namun beliau tekankan, 5 proses di atas hanya bisa dilakukan apabila mereka sudah menggunakan IT yang canggih. Tanpa FINA, informasi di atas mustahil untuk didapatkan H+1. Beliau bahkan mengakui bahwa FINA for Distributor yang mereka gunakan "Top banget".

Dari situ, saya berkesimpulan bahwa teori berikut ini benar adalah:
"Apa yang bisa Anda ukur, bisa Anda kontrol. Apa yang bisa Anda kontrol, bisa Anda tingkatkan". 
Bos tadi menutup pembicaraan dengan mengatakan: Ke depannya, hanya perusahaan dengan IT yang kuatlah yang mampu bertahan di dalam persaingan bisnis.

Semoga artikel ini bisa membantu Anda meningkatkan omset, profit & cashflow perusahaan Anda melalui software akunting.

06 September 2015

Mengapa Setiap Bisnis Harus Menggunakan Software Akuntansi?

Bisnis di Indonesia cukup unik. Menurut survei yang pernah dilakukan oleh Imamatek, 80% perusahaan di Indonesia belum menggunakan Accounting Software. Yang menariknya adalah, bisnis yang di survei bukan tergolong perusahaan kecil. Jumlah karyawan mereka sudah di atas 10 orang. Omset mereka sudah mencapai milyaran.

Pertanyaannya adalah: Mengapa banyak bisnis di Indonesia belum atau tidak menggunakan Accounting Software?
Berikut jawaban menurut analisa saya pribadi.

"Hukum perpajakan yang belum ditegakkan dengan baik dan iklim bisnis yang tidak kompetitif adalah 2 alasan utama mengapa 80% bisnis di Indonesia belum menggunakan software akuntansi".
Kurang Pemahaman Akuntansi
Tadinya saya berpikir karena pemilik bisnisnya kurang mengerti tentang akuntansi, namun kalau di lihat di negara lain seperti US & Australia, kebanyakan pemilik bisnisnya juga tidak memahami akuntansi. Namun penetrasi software akuntansi di negara-negara tersebut sudah hampir di semua perusahaan, baik kecil maupun besar. Jadi menurut saya bukan ini alasannya.

Hukum Perpajakan Yang Kurang Ketat
Kalau melihat perbedaan antara negara maju & negara berkembang, saya bisa melihat adanya perbedaan dalam hal penegakan hukum, terutama hukum perpajakan. Bila di negara maju, Anda tidak membayar pajak dengan benar akan menyebabkan pemiliknya dipenjara. Sampai saat ini, masih sangat sedikit sekali cerita orang dipenjara gara-gara tidak bayar pajak. Ini adalah alasan pertama yang menyebabkan banyak perusahaan di Indonesia belum menggunakan software akuntansi.

Saya yakin saat penegakan peraturan perpajakan di Indonesia diperketat, persentase pengguna software akuntansi di Indonesia akan jauh meningkat.

Iklim Bisnis Yang Tidak Kompetitif
Saya dulu bertanya-tanya, mengapa pengusaha yang tidak memiliki laporan keuangan namun bisnisnya baik-baik saja, bahkan terus berkembang. Pertanyaan saya terjawab saat mendengar Pak Harjono Darto, seorang konsultan dan pakar di bidang financial dan managerial Accounting menjelaskan mengenai hal ini. Para pengusaha memang tidak memiliki laporan keuangan standard seperti Neraca, Laba rugi dan arus kas. Namun mereka memiliki catatan buku bank, daftar piutang, dan kartu stok. Walaupun bentuknya berbeda, namun semuanya itu sebetulnya sudah merupakan laporan keuangan. Dari situ saya sudah paham. Para pebisnis sebetulnya ada 'laporan keuangan', namun masih manual dan tidak standard.

'Laporan Keuangan' tersebut, karena dibuat secara manual akan berakibat tidak akurat dan lambat sehingga tidak dapat diandalkan untuk pengambilan keputusan. Dalam kondisi industri yang bertumbuh, daya saing tidak terlalu penting karena margin keuntungan relatif lebih tinggi. Jadi tanpa informasi keuangan yang akurat pun, bisnis mereka tetap bisa bertumbuh dan bertahan sehingga para pebisnis merasa belum butuh software akuntansi. Ini adalah alasan kedua mengapa banyak perusahaan di Indonesia belum menggunakan software akuntansi.

Kondisi Mulai Berubah
Bila kita perhatikan, 2 alasan utama pebisnis belum menggunakan software akuntansi bisa dikategorikan sebagai faktor makro. Sayangnya kedua kondisi ini tidak statik. Pelan tapi pasti, peraturan perpajakan dan penegakannya mulai digalakkan. Kurs dollar yang naik turun tiada kepastian juga memaksa pebisnis untuk berhati-hati dalam mengambil keputusan bisnis bila ingin tetap untung.

Bila saatnya sudah tiba, hanya perusahaan yang sudah menggunakan software akuntansilah yang bisa bertahan. Pertanyaannya adalah: Apakah perusahaan Anda sudah siap menghadapi hukum perpajakan yang semakin ketat dan iklim bisnis yang lebih bersaing?

Bila Anda termasuk 80% pemilik bisnis yang belum menggunakan software akuntansi, silakan pertimbangkan untuk menggunakan FINA Accounting Software yang bisa memberikan solusi terpelik sekalipun mengenai bisnis Anda.


03 Oktober 2014

Ini Penyebab Harga Produk Indonesia Tidak Bisa Murah

Wakil Menteri Perdagangan Indonesia, Bapak Bayu Krisnamurthi, pada acara  "Workshop Internasional SMEs in the Borderless Era, Shaping Opportunity in the Global Value Chain" di Hotel Borobudur, Jakarta, Rabu (1/10/2014) berkata: "Produk Indonesia sulit bersaing harga dengan produk Tiongkok. Tiongkok dapat menjual produk dengan harga murah karena produksinya besar. Dari produksi yang cukup besar itu, timbul efisiensi pengeluaran biaya perusahaan, termasuk ongkos tenaga kerja. Karena produksi besar dan biaya rata-ratanya rendah".

Dari kutipan di atas saya dapat menyimpulkan bahwa Yang Terhormat Bapak Bayu masih menganut sistem Cost Accounting. 
Pada artikel saya terdahulu, saya sudah membahas bagaimana caranya sistem cost accounting membunuh daya saing sebuah perusahaan. Sekarang saya ingin membahas mengapa Cost Accounting diciptakan.

Laporan keuangan sebuah perusahaan secara garis besar akan terlihat sebagai berikut:
Penjualan
HPP(-)
------------------------------------------
Gross Profit
Biaya Marketing & Sales (-)
Biaya Umum & Administrasi (-)
-----------------------------------------
EBITDA
Depresiasi (-)
Amortisasi (-)
Bunga pinjaman (-)
------------------------------------------
EBT
Pajak (-)
------------------------------------------
Net Profit

Perhatikan baris pertama: Penjualan. Angka total penjualan adalah terdiri dari penjualan dari masing-masing produk.
Rumusnya adalah:
Sales(Total) = Sales(Produk A) + Sales(Produk B) + ..... + Sales(Produk N)

Dengan mudah kita bisa lihat penjualan per produk.
Namun ada godaan bagi pengambil keputusan untuk mengetahui produk mana yang memberikan kontribusi Net Profit yang paling tinggi/rendah. Tujuannya adalah agar mengetahui produk mana yang akan diteruskan/digenjot atau malah perlu dihentikan.

Di sini permasalahan mulai muncul.
Biaya operasional secara total dibentuk dari akumulasi biaya per masing-masing divisi.
Rumus biaya operasional total adalah:
Biaya(Total) = Biaya(Divisi A) + Biaya(Divisi B) + ..... + Biaya(Divisi N)

Lalu bagaimana caranya kita bisa mengetahui Laba rugi per produk?
Maka ide kreatif mulai muncul.
Rumus yang tadinya adalah:
Net Profit(total) = Sales(total) - Biaya(Total)    (*)

(*) catatan: Untuk menyederhanakan rumus, Sales yang dimaksud di sini adalah Net Sales di mana penjualan sudah dipotong dengan HPP. Biaya(total) adalah semua biaya yang mengurangi Gross Profit.

ingin diubah menjadi:
Net Profit(total) = Net Profit(produk A) + Net Profit(Produk B) + .... + Net Profit(Produk C)
yang berlanjut menjadi:

Net Profit(Total) = (Sales(Produk A) - Biaya(Produk A)) + (Sales(Produk B) - Biaya(Produk B)) + ... + (Sales(Produk N) - Biaya(produk N))

Apakah Anda masih bisa ikuti?
Nah, di sinilah muncul permasalahan.
Kita tidak mempunyai angka untuk biaya per produk. Kita hanya punya biaya per divisi.
Di sinilah mulai muncul istilah "Alokasi". Setiap biaya kantor akan dialokasikan ke Harga Pokok Produk (HPP).
Mulai dari: depresiasi, biaya listrik, sampai ke biaya gaji, termasuk gaji direktur.

Bagaimana caranya untuk melakukan alokasi, masing-masing perusahaan mempunyai caranya sendiri-sendiri. Saya sudah bahas beberapa contohnya di sini. 
Situasinya adalah: cara menghitung HPP hasil alokasi ini sudah mendarah daging di dalam sistem akuntansi sehingga saat ini sudah dianggap sebagai sebuah kebenaran.

Kembali ke kutipan Pak Bayu di atas. Beliau menganggap bahwa Tiongkok bisa efisien karena produksinya bisa banyak sehingga harga jualnya murah.
Pertanyaannya: Mana yang datang duluan? Produksi banyak atau harga murah?
Bagaimana kita bisa produksi banyak bila harganya mahal? Bagaimana harga kita bisa murah bila HPP-nya dibebankan dengan biaya depresiasi mesin yang harganya Milyardan?

Menjawab judul artikel saya: Penyebab harga produk Indonesia tidak bisa murah bukan karena jumlah produksinya kecil, tapi karena HPP-nya sudah dibebankan dengan biaya gaji direktur.
Bagaimana caranya bisa murah? Kembali ke dasar lagi. Hitung HPP hanya dari harga bahan baku saja. Dengan demikian harga jualnya bisa diturunkan. Kalau harga jual turun maka pembeli akan banyak beli. Kalau banyak yang beli maka jumlah produksi akan meningkat. Pada akhirnya laba kotor ini cukup untuk menutup biaya operasional.

Demikian dari saya. Semoga bisa memberikan pencerahan.






23 Mei 2014

Customization

Saya masih ingat dengan ilmu Marketing Hermawan Kartajaya yang menjelaskan Lansekap marketing jaman dulu yang 2 C (Company-Customer) berubah menjadi 4 C (Change Agent, Customer, Competitor, Company).

Terinspirasi dari ilmu itu, saya ingin membagikan pengalaman dan pembelajaran saya di bidang marketing.
Ada 1 C yang menurut saya sangat powerful yang perlu ada di dalam marketing saat ini, yaitu: Customization.
Henry Ford menjawab orang saat meminta warna lain untuk mobil Model-T-nya: "You can have any color as long as it is black". Henry Ford menolak untuk men-custom produknya agar sesuai dengan selera pasar. Sejarah sudah menunjukkan akhirnya mobil Amerika disalip oleh mobil Jepang.

Sejarah sudah mengajarkan kepada kita betapa pentingnya untuk melakukan customization. Lalu mengapa sampai saat ini masih jarang perusahaan yang mau melakukan customization? Cost adalah pertimbangan utama. Memproduksi sesuatu yang seragam akan lebih cepat dibandingkan dengan sesuai permintaan. Tentu saja dibutuhkan teknologi yang tepat agar produsen bisa menghasilkan produk custom dengan cost rendah.

Teman saya yang bermain di lampu LED berbagi cerita ke saya bagaimana mereka bisa memenangkan proyek di hotel-hotel besar mengalahkan produsen LED ternama seperti Philips & Osram. Mengapa? Karena dia bisa menawarkan produk sesuai dengan kebutuhan customer: seperti warna tertentu, tingkat terang tertentu, dll. Sedangkan produsen besar lainnya tidak mampu memenuhi permintaan khusus seperti itu.

Saya di Imamatek juga mengalami hal yang sama. Saat produk kami: FINA Accounting Software ditempatkan untuk head-to-head bersaing dengan kompetitor seperti Accurate & Zahir, kami selalu kalah. Kami kalah harga & nama. Sampai akhirnya kami berinovasi dengan produk sehingga mempunyai kemampuan Scripting sehingga FINA bisa di-custom sesuai dengan kebutuhan customer dalam waktu yang singkat, baru kami menemukan pasar ceruk yang tidak bisa diisi oleh kompetitor.

Bagaimana dengan Anda?
Apakah Anda tahu kebutuhan Customer Anda? Kalau Anda tidak tahu: turun ke pasar. Bicara dengan customer Anda. Percaya dengan saya, customer Anda sangat suka sekali menceritakan tentang kebutuhan mereka karena mereka ingin kebutuhan tersebut bisa dipenuhi.

Apakah produk yang Anda pasarkan sudah disesuaikan dengan kebutuhan Customer? Bila tidak bisa, coba berinovasi. Cari supplier yang bisa. Cari teknologi yang bisa. Semakin Anda bisa custom produk Anda sesuai dengan kebutuhan, semakin mudah produk Anda masuk diterima oleh customer Anda.

Selamat ber-marketing.

29 April 2014

I Love My Spin

Saya ingin memberikan review atas Mobil Chevrolet Spin Diesel yang baru saya pakai 1 bulan belakangan ini. Melalui artikel ini saya juga ingin membahas strategi marketing dari General Motor Indonesia yang sedang mencoba menguasai pasar mobil di Indonesia.

Saya akan mulai dulu dengan review Spin.
Proses ini dimulai dengan keinginan saya untuk mengganti Xenia saya yang sudah berumur 11 tahun. Karena pasar mobil mini MPV sudah mulai beragam, maka saya mutuskan untuk tidak lagi menggunakan mobil sejuta umat (Avanza-Xenia). Pilihannya mulai dari Nissan Livina, Suzuki Ertiga, Chevrolet Spin, serta pendatang baru Honda Mobilio.
Livina saya coret dari list karena ada testimoni teman yang agak miring mengenai dukungan after sales perusahaan ini.
Ertiga juga saya coret karena tidak terlalu banyak fitur yang ditawarkan.
Awalnya saya tidak memperhitungkan Spin. Saya lebih cenderung ke Mobilio. Dengan bodinya yang sexy serta segala keunggulan yang digembar-gemborkan, saya sudah memutuskan untuk membeli Mobilio. Namun sayangnya, memang belum jodoh. Inden minimal 3 bulan membuat saya urung.
Ada 1 iklan yang membuat saya beralih ke Spin, yaitu: Spin mendapatkan predikat "The best fuel consumption 2013" versi majalah Auto Bild. Sejak melihat iklan itu, saya langsung mempelajari tentang Spin dan berakhir di test drive di salah satu dealer Chevrolet.

Saat test drive, saya diminta oleh salesmannya untuk meng-'hajar' polisi tidur. Di luar dugaan saya, mobil dengan entengnya melibas kondisi jalan tersebut. Saya membayangkan kalau saya melakukan hal yang sama dengan mobil saya yang dulu, bisa dipastikan istri & anak saya yang duduk di bangku baris kedua akan meloncat ke atas.
Singkat cerita saya memutuskan untuk membeli Spin dan setelah 1 bulan pakai, berikut review saya. Mohon diingat, saya bukan pakar otomotif. Saya hanya memberikan review sebagai pengguna awam.


  1. Konsumsi solar untuk perjalanan campur antara tol & dalam kota adalah sekitar 1:18. BBM yang saya gunakan adalah Shell. Kondisi ini menurut saya sudah sangat bagus dan menghemat kocek cukup besar.
  2. Suspensi yang menggunakan Mc Pharson strut sangat enak sekali. Terutama saat melewati polisi tidur & jalanan yang berlubang. Sering kali saat di jalanan mobil lain harus melambatkan kecepatannya, saya dengan PeDe-nya melibas tanpa terlalu terguncang.
  3. Bodinya yang unik serta mereknya yang kurang lazim di Indonesia membuat orang sering bertanya-tanya saat melihat mobil ini. Walaupun harganya setara dengan mobil sejuta umat, namun gengsinya terasa lebih tinggi.
  4. Sistem komputer yang pintar. Saat saya mematikan mesin mobil dalam kondisi radio menyala, saya bingung kok radionya tidak langsung mati. Ternyata radionya akan mati saat saya buka pintu mobilnya. Wah, pintar sekali radionya.
  5. Kunci kontak yang bisa dilipat ke dalam membuat ringkas saat membawa kunci tersebut.
Ada banyak hal kecil-kecil yang mungkin tidak terlalu penting untuk saya sebutkan 1 per 1 di sini. Intinya adalah: Saya puas menggunakan Spin.

Sekarang pembahasannya ke sisi bisnis.
Spin adalah produk yang bagus (terutama versi Diesel) yang bisa merajai jalanan di Indonesia. Namun ada banyak PR bagi PT GMI agar bisa sampai ke situ.

Pertanyaan atau komentar yang sering saya terima saat membahas tentang Spin:
  1. Onderdilnya mahal nggak?
  2. Nanti bakal susah jualnya lho?
  3. Spin? Mobil apaan tuh?
Apa PR yang harus dikerjakan oleh GMI?
  1. Memperbaiki image bahwa mobil Amerika (dan Eropa) onderdil dan after sales service-nya mahal. Saya melihat GMI sudah mulai melakukan hal ini. Harian Kompas menempatkan Spin sebagai mobil yang harga pemeliharaannya paling murah untuk jangka waktu 3 tahun. Sepertinya GMI sudah berusaha keras untuk menekan biaya pemeliharaan Spin.
  2. Harga jual mobil bekasnya jatuh. Nah, bagian ini saya telah menemukan rahasianya. Ternyata harga jual mobil bekas selalu mengacu ke harga jual mobil baru. Jadi, agar harga bekas tidak jatuh, harga mobil baru harus secara konsisten dinaikkan. Persis keesokan hari setelah saya beli Spin, harganya sudah naik 2 juta. Pertanyaannya tinggal: Seberapa mampu GMI terus menaikkan harga Spin? Sepanjang Spin terus ditambah nilainya, tentunya harga jual yang terus naik masih bisa terus diterima.
  3. Jaminan yang lebih baik lagi. Garansi yang diberikan adalah 3 tahun tanpa melihat odometer. Sedangkan untuk gratis service berkalanya masih melihat Odometer (mana yang tercapai terlebih dahulu). Mengapa harus tanggung-tanggung? Untuk merek yang masih underdog seperti ini, berikan sesuatu yang Wah agar konsumen bisa lebih puas. Sebagai contoh, mobil KIA yang juga mempunyai stereotip yang sama, mereka berani memberikan garansi 5 tahun.
Apakah GMI bisa menguasai pasar otomotif di Indonesia? Menurut pendapat pribadi saya: Bisa. Namun butuh waktu yang panjang dan kerja keras dari GMI untuk memperbaiki brand image-nya yang masih underdog seperti sekarang ini.

23 April 2014

Pertamina vs Shell

Sudah sejak lama saya memutuskan untuk tidak ikut berpartisipasi dalam mengerogoti keuangan negara dalam bentuk menggunakan BBM bersubsidi.
Untuk membeli BBM non subsidi, ada banyak pilihan, namun cerita di bawah membantu saya untuk membuat keputusan.

Ada teman saya yang bercerita bahwa motornya selalu menggunakan bensin Shell. Setelah menggunakannya bertahun-tahun. Saat service di bengkel, montirnya berkomentar: "Mesinnya baru dicuci ya?". Teman saya mengiyakan, padahal di dalam hatinya dia berkata sudah lama tidak mencuci mesinnya.

Berdasarkan cerita dari seorang teman tersebut, maka saya memutuskan untuk membeli bensin di POM bensin Shell. Sejak saat itu, setiap kali saya harus mengisi BBM, saya akan selalu mencari POM bensin Shell.

Pengalaman saya di POM Bensin Shell sejauh ini sangat menyenangkan. Apa yang saya alami di POM bensin Shell antara lain:

  • Petugasnya ramah-ramah
  • Selalu ditawarkan untuk mengelap kaca depan mobil.
  • Pengisiannya sangat bersih. Tidak ada 1 tetes BBM pun yang tercecer. Mereka dengan halus mengisi BBM hingga penuh tanpa tercecer.
  • Mereka selalu menggunakan sales script yang sama, di mana pun saya mengisi BBM. Misalnya, saya selalu disampaikan: "Kalau mau isi angin ban atau air radiator, silakan menuju ke situ" (sambil menunjuk tempat pengisian angin).
  • Bisa membayar dengan kartu kredit tanpa dikenakan charge 3%.
  • Banyak promo-promo dengan penyedia kartu kredit. Kemarin sempat dapat mobil lego Ferari karena membayar dengan kartu dari Bank tertentu.
  • Petugasnya juga terlihat dipelihara dengan baik oleh perusahaannya. Sebagai contoh: Saya melihat semua petugas pengisian mengenakan sepatu yang sangat bagus. Saat saya memuji sepatu mereka, mereka menjawab: "iya, ini sepatu khusus yang diberikan oleh perusahaan. Kalau kaki terlindas oleh ban mobil, kaki tidak akan cedera". Saya terkejut mendengar hal ini. Berarti Shell sangat memperhatikan kehidupan karyawannya.
Saya selalu menjadi pelanggan setia Shell. 
Memang di hati kecil saya sedikit terganggu karena tidak membeli produk dalam negeri. Namun, toh produk dari Pertamina juga produk import kan?

Nah, satu ketika saat saya sedang mengendarai mobil di tol Cikampek dan BBM sudah hampir habis, sambil menyesali keteledoran saya untuk tidak mengisi Shell sebelum naik tol, saya terpaksa mampir di POM bensin Pertamina.

Apa yang saya alami sungguh luar biasa. Perbedaannya langit dan bumi. Beberapa di antaranya adalah:
  • Bila mau membayar dengan kartu kredit akan dikenakan charge 3%. Saya sempat complain mengenai hal ini. Saya bilang: Harga sama dengan Shell dan produknya bukan BBM bersubsidi, tapi kenapa dikenakan charge? Petugasnya dengan enteng menanggapi: "Sudah kebijakan dari sononya". Untung mereka masih menerima pembayaran dengan kartu debit tanpa dikenakan charge.
  • Saat pengisian hampir penuh, mereka tidak mempunyai tombol untuk merendahkan kecepatan pengisian (seperti di Shell). Alhasil, BBM-nya tumpah ke luar. Saya complain: "Mbak, tolong hati-hati dong mengisinya". Dia memberikan alasan: "Iya, di dalamnya ada udara sehingga BBM-nya terdorong ke luar". Selama saya isi BBM di Shell, tidak pernah 1 kali pun ada setetes yang tercecer. Di sini malah muncrat dengan volume yang lumayan banyak.
  • Tidak ada sales script yang disampaikan oleh petugas. Tidak ada senyuman ramah menempel di bibir mereka. Mereka hanya bekerja layaknya pekerja biasa yang dibayar dengan (mungkin) gaji di bawah UMP.
Demikianlah ungkapan isi hati saya. Anda boleh bilang saya tidak nasionalis karena membeli BBM dari negeri Belanda. Namun dengan harga yang sama saya mendapatkan layanan yang jauh lebih baik dengan produk yang sedikit lebih baik, apa alasan saya untuk menggunakan produk Pertamina?

03 November 2013

Mengapa Saya Menjadi Pebisnis?

Satu hari saya kedatangan seorang tamu dari luar negeri. Kami membahas tentang sebuah kerja sama bisnis yang saling menguntungkan. Setelah pembahasan bisnis selesai, kami mulai membahas hal-hal yang lebih personal, seperti: Hobi, dan sebagainya. Ternyata sang tamu mempunyai hobi karaoke. Nah, diajaklah saya untuk malam ini menemani dia ber-karaoke. Saya Oke-kan. Kebetulan saya juga suka nyanyi (walaupun dengan suara yang pas-pasan). Yang membuat saya terkejut adalah: saat masuk ke ruang karaoke, dia memesan 3 gadis untuk menemani kami bernyanyi. Kalau saya tolak takut menyinggung perasaan sang tamu yang sudah pesan. Jadilah kami (bertiga) bernyanyi dengan ditemani masing-masing oleh gadis yang usianya setengah dari saya.

Kejadian di atas membuat saya ingat lagi mengapa saya memulai bisnis saya. Alasan pertama adalah: Agar saya mempunyai pilihan. Pilihan untuk melayani pasar tertentu yang tidak mengharuskan saya untuk meng-entertain tamu atau customer atau prospek.

Bukan cuma persoalan entertain di dunia malam yang saya tidak suka. Sejak awal saya menjalankan bisnis, saya sudah mengharamkan praktek mark-up atau memberikan fee kepada orang dalam. Saya lebih baik tidak menjual kepada perusahaan tersebut dari pada harus menanggung teguran hati nurani yang tidak mungkin bisa saya abaikan. Berdasarkan pertimbangan di atas, saya memutuskan untuk memilih pasar Small & Medium Enterprise (SME).

Memilih pasar SME tentu saja ada konsekuensinya. Kalau menggarap pasar Enterprise, gebuk 1 'nyamuk' bisa hidup 1-2 tahun. Hal yang berbeda dengan pasar UKM. Kami harus gebuk 10 sampai  20 'nyamuk' untuk bisa hidup 1 bulan.

Alasan kedua saya memulai bisnis sendiri karena saya termasuk orang yang tidak bisa disuruh-suruh. Saya ingin mempunyai kebebasan untuk mewujudkan visi yang Tuhan taruh di dalam kepala saya. Agak repot bila setiap kali ada visi baru, saya harus minta ijin dulu dengan atasan saya agar bisa diwujudkan. Itu sebabnya saya keluar dari pekerjaan saya yang pertama dan yang terakhir.

Alasan ketiga adalah alasan klasik: Sebagai pebisnis, langit adalah batasnya. Bila saya hanya bekerja sebagai karyawan, maka income tertinggi saya adalah gaji plus segala tunjangan & insentifnya. Tapi bila saya jadi pebisnis, maka penghasilan saya bisa setinggi yang bisa saya capai. Namun konsekuensinya adalah: pebisnis juga tidak mempunyai lantai yang solid untuk diinjak. Dengan kata lain, sisi lain dari kalimat: 'langit adalah batasannya' adalah 'tidak ada bumi yang dipijak'. Kalimat kedua inilah yang terkadang membuat ciut orang untuk terjun ke dalam bisnis. Namun karena saya adalah tipe yang hantam kromo, saya putuskan untuk terjun ke bisnis tanpa banyak berhitung. Saya mensyukuri keputusan yang saya ambil 17 tahun yang lalu.

Alasan terakhir saya menjadi pebisnis adalah: Dengan menjadi pebisnis saya bisa mengubah hidup banyak orang. Seorang lulusan SMK yang kerja di Imamatek, setelah 4 tahun bekerja, bisa mempunyai pendapatan 2 hingga 3 kali lipat dari UMP. Ada banyak karyawan yang selepas bekerja dari Imamatek, memulai usahanya sendiri. Saya tidak pernah khawatir karyawan keluar dari Imamatek dan menjalani karir atau usahanya sendiri. Semakin tinggi karir / usahanya dia di luar Imamatek, semakin bangga saya karena sudah berhasil memberikan sedikit kontribusi di dalam hidup yang bersangkutan.

Demikian sharing dari saya. Semoga bermanfaat bagi Anda terutama yang sedang dilema apakah mau pindah kuadran dari employee ke business owner. Atau bagi yang sudah terjun ke Business Owner namun mulai mempertanyakan keputusan tersebut dan sedang mempertimbangkan untuk kembali lagi jadi Employee.

18 Oktober 2013

Cara Meningkatkan Daya Saing Industri Manufaktur Indonesia

Sebagai penyedia software akuntansi untuk pebisnis Indonesia, saya sering menghadapi situasi di sebuah perusahaan manufaktur yang ingin mencatat biaya produksi. Tujuan mereka mencatat biaya produksi adalah untuk mengetahui Harga Pokok Produksi (HPP). Pada akhirnya bila produk tersebut dijual, akan timbul Harga Pokok Penjualan (HPP).

Bagi Anda yang pernah kuliah di jurusan Akuntansi dan mengambil mata kuliah Cost Accounting di Intermediate 1, tentunya Anda akan diajarkan bahwa HPP atau bahasa Inggris-nya adalah Cost Of Goods Manufactured (COGM) terdiri dari:

  1. Cost dari bahan baku (Raw Material)
  2. Biaya langsung / Direct cost / Direct Labor
  3. Overhead pabrik (Factory/Manufacturing Overhead atau FOH/MOH).
Maka akan didapatlah HPP.

Apakah ada yang salah dengan rumus di atas? Tidak ada yang salah bila digunakan pada situasi yang tepat. Namun bila disalah gunakan, maka akan berakibat menurunnya daya saing produk Anda dipasaran.

Mari saya jelaskan.

Teori cost accounting di atas ditemukan pada zaman revolusi industri di abad ke-18. Pada zaman itu, kebanyakan produksi dikerjakan oleh manusia. Kalau pun ada mesin, masih sebatas mesin manual yang harganya relatif murah. Pada zaman itu, biaya tenaga kerja dihitung berdasarkan hasil pekerjaan. 
Jadi kondisi saat itu adalah:
  1. Biaya tenaga kerja dihitung berdasarkan hasil produksi (Variable Cost). Bila produksi naik, maka biaya tenaga kerja ikut naik. Bila produksi turun, biaya tenaga kerja ikut turun.
  2. Overhead pabrik juga relatif kecil. Harga mesin relatif murah sehingga nilai depresiasi yang dibebankan relatif kecil.
Mari kita lihat zaman sekarang, terutama kondisi di Indonesia.
Gaji buruh pabrik sudah sangat jarang dihitung berdasarkan hasil produksi. Boro-boro hitung berdasarkan hasil produksi. Saat tulisan ini ditulis, para buruh masih sering demo untuk menuntut kenaikan UMP.
Bila buruh digaji tetap, apakah ada pengaruh bila produksi sedang rendah atau tinggi? Tidak ada. Mau produksi rendah, mau produksi tinggi, gaji buruh tetap sama. Bahkan bila tidak produksi sekalipun, gaji bulanan tetap harus dibayar (bila tidak ingin di-demo).

Bagaimana dengan overhead pabrik? Overhead pabrik biasanya terdiri dari biaya depresiasi mesin, biaya listrik dan utilitas lainnya, bahkan ada yang memasukkan gaji direktur ke dalam overhead pabrik.
Kondisinya sama dengan gaji buruh. Bila produksi sedang rendah, apakah depresiasi mesin dan gaji direksi akan berkurang? Jawabannya adalah tentu saja tidak.

Pada prakteknya, ada 2 cara yang biasa dilakukan oleh divisi accounting untuk membebankan biaya gaji & overhead:
  1. Total gaji & overhead per bulan dibagi dengan hasil produksi dan dibebankan secara proposional.
  2. Berdasarkan angka tahun lalu, dihitung standard overhead per output produksi. Sehingga setiap hasil produksi akan dibebankan dengan overhead yang standard.
Kedua cara di atas mempunyai efek samping yang negatif, yaitu:
  1. Cara pertama akan menjadi kontra produktif bila produksi sedang rendah. Pada saat itu biaya gaji dan overhead tetap sama sehingga total biaya tersebut akan dibagi dengan angka yang kecil yang menghasilkan cost per produk menjadi bengkak.
  2. Untuk cara kedua, malah sebaliknya. Saat produksi sedang tinggi, maka beban overhead akan menjadi lebih tinggi dibandingkan biaya actual. Hal ini akan menyebabkan angka biaya di laporan laba rugi menjadi negatif. Hal ini akan menyebabkan Anda salah menganalisa biaya.
Lalu apa yang harus dilakukan?

Kita hanya perlu mencatat biaya yang variable saja. Artinya: saat produksi naik, biaya akan naik. Saat produksi rendah, biaya ikut turun. Yang tidak termasuk biaya variable, jangan dibebankan ke HPP.
Yang termasuk biaya variable adalah:
  1. Biaya Raw Material/Bahan baku.
  2. Biaya gaji yang dihitung berdasarkan hasil produksi (ongkos kerja, dll).
Apa manfaat menghitung HPP seperti cara di atas?
  1. Daya saing produk Anda akan meningkat. Bila tadinya Anda menghitung dengan pembebanan overhead HPP Anda adalah 10 ribu, maka Anda tidak mungkin bisa menjual di bawah harga 10 ribu. Tapi bila Anda hanya menghitung Raw material saja, maka kemungkinan HPP Anda hanya 5 ribu sehingga anda bisa  menjual dengan harga 7 ribu.
  2. Sistem Akuntansi Anda juga menjadi sangat sederhana. Sederhana berarti mudah untuk dilacak dan dilaporkan serta lebih cepat.
Pada saat ide ini dilontarkan, umumnya respon yang saya terima adalah: Mana boleh hitung HPP seperti itu. Kan rugi? Mesin sudah dibayar mahal-mahal kok tidak dibebankan ke hasil produksi?
Pertanyaan saya kepada orang tersebut adalah: Setelah mesin itu dibeli, apakah biaya depresiasinya akan turun bila produksinya meningkat/menurun? Jawabannya adalah TIDAK. Begitu pula dengan gaji dan biaya lainnya.

Sebagai contoh: Saya pernah mengetahui sebuah pabrik yang baru membeli mesin seharga Rp. 50 Milyard. Fungsi mesin tersebut adalah untuk membungkus produknya dengan lebih cepat. Metode depresiasi yang digunakan adalah double declining (dengan alasan agar bisa mengurangi pajak). Bayangkan! Berarti biaya pada tahun pertama yang akan dibebankan ke HPP adalah Rp. 25 milyar. Anggap saja hasil produksinya sekitar 100 juta buah per tahun, maka HPP masing-masing produknya akan bertambah sebesar 250 rupiah. Hal ini akan menyebabkan produk tersebut tidak bisa lagi dijual dengan harga lama dan harus dinaikkan paling tidak Rp. 250.

Bukankah cara ini menjadi kontra produktif? Membeli mesin bukankah tujuannya agar produksi bisa lebih efisien dan ujung-ujungnya menurunkan biaya produksi dan meningkatkan daya saing? Lalu kenapa sekarang malah membeli mesin baru membuat HPP tambah mahal?

Negara China sudah lama menggunakan metode perhitungan HPP hanya dari raw material. Mesin produksi mereka canggih-canggih, sehingga produktifitasnya sangat tinggi. Walaupun mesinnya canggih dan mahal, namun harga jual produk mereka tetap ditekan murah. Itu sebabnya produk dari negeri tirai bambu ini murah-murah dan di-import ke mana-mana.

Nah, kembali ke Anda lagi. Bila Anda adalah pengusaha yang memiliki pabrik, coba cek lagi cara Anda menghitung HPP. Jangan-jangan, daya saing produk Anda rendah hanya disebabkan cara menghitung HPP-nya yang kurang mengikuti perkembangan jaman.

Demikian tulisan dari saya. Semoga bermanfaat.